Sejarah Desa

DESA JOHOREJO ialah Secara keseluruhan wilayah Desa Johorejo terdiri dari 5 blok, yaitu Blok Silanjar, Tuk Silo, Sasem, Sekracan dan Sebalong. Pembagian blok ini juga mempunyai sejarah atau cerita legenda sendiri-sendiri. Keunikan cerita asal muasal blok ini sampai saat ini masih sering di dengar ceritanya dari mulut ke mulut dan diyakini sebagai masyarakat setempat.

Asal muasal Blok Silanjar menurut sesepuh setempat tidak bisa dipisahkan dari sebuah cerita drama percintaan yang mengharukan. Pada masa itu ada seorang janda muda (lanjar) yang cantik jelita, karena kecantikannya inilah banyak pemuda desa yang menaruh hati padanya, namun hatinya sudah tertambat pada seorang jejaka desa. Suatu hari jejaka itu dating padanya untuk memadu kasih akan tetapi tiba-tiba terjadilah sebuah keajaiban, dua insan yang sedang dimabuk asmara itu hilang entah kemana. Akhirnya blok ini yang kebetulan berbatasan dengan Desa Lumansari dinamai Blok Silanjar.

Berbeda dengan cerita Blok Tuk Silo, wilayah ini memiliki cerita tersendiri. Konon pada jaman dahulu di tengah sawah (bengkok) desa terdapat mata air yang tidak pernah kering. Keberadaan Tuk (sumber air) ini sangat menggembirakan warga setempat karena selain untuk kebutuhan sehari-hari, limpahan airnya mampu digunakan untuk mengairi sawah disekitarnya. Begitulah tetenger tersebut oleh masyarakat setempat dinamai Tuk Silo.

Sedangkan Blok Sasem mempunyai sejarah yang hampir sama dengan Blok Tuk Silo hanya yang membedakan adalah tetengernya, kalau di Blok Tuk Silo tetengernya berupa mata air, sedangkan di Blok Sasem adalah Pohon Asem yang rimbun. Lain lagi Blok Sekracan, dinamai sekracan karena daerah tersebut dahulunya banyak ditemukan Siput (kroco), sehingga secara turun temurun daerah tersebut kemudian dinamai Sekracan.

Blok yang kelima adalah Blok Sebalong, dari namanya kita bisa mengira-ngira sejarah blok ini. Sesuai dengan namanya di blok ini dulunya terdapat saluran (balong) yang cukup dalam. Pada musim

 

 

penghujan balong ini dipenuhi air hingga membanjiri ke sawah-sawah

sekitarnya. Keberadaan balong ini juga menguntungkan bagi para petani sekitar, di mana pada musim

kemarau airnya bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah.

Kira-kira pada tahun 1990 an Desa Johorejo masih merupakan pedukuhan dengan jumlah penduduk yang relatif masih sedikit, tidak banyak yang bisa diceritakan mengenai pedukuhan ini, hanya menurut catatan sejarah desa yang dapat dihimpun, Desa Johorejo dahulunya adalah merupakan gabungan dari dua desa yaitu Desa Joho dan Leban. Pada masa itu Desa Joho dipimpin oleh seorang Kepala Desa bernama Niti yang berasal dari Desa Sendang (sekarang masuk wilayah Kecamatan Rowosari) sedangkan Desa Leban dipimpin oleh Kepala Desa bernama Sarun yang berasal dari Joho.

Pada tahun 1918 Kepala Desa Leban yaitu Sarun meninggal dunia, sehingga praktis pada masa itu pemerintahan desa dalam keadaan kosong. Atas pertimbangan kedekatan wilayah dan kesepakatan warga masyarakat serta petunjuk dari atasan yang berkuasa pada masa itu (tidak disebutkan dalam catatan sejarah desa) untuk mengisi kekosongan pemerintahan di Desa Leban. Akhirnya kedua desa tersebut digabung dengan nama Johorejo di bawah kepemimpinan Kepala Desa yang ke-1 yang bernama Niti.

Setelah meninggalnya Kepala Desa Niti, tampuk kepemimpinan dipegang oleh Atmo yang dibantu beberapa orang staf, namun dalam catatan sejarah yang ada di Desa Johorejo tidak disebutkan nama-nama orang staf tersebut. Pada tahun 1945 Kepala Desa Atmo meninggal dunia.

Sepeninggal Atmo, Lurah Desa Johorejo adalah Suri Niti, beliau tidak lain adalah putra sulung kepala desa pertama, Niti. Pada masa kepemimpinannya ada catatan lengkap mengenai staf Kepala Desa (perangkat desa) Johorejo. Adapun menurut catatan tersebut, Carik Desa Johorejo bernama Ambari, bekelnya bernama Pandi, Palang (Jogoboyo/Kapetengan) dipegang oleh Kardi, Bayan Tani bernama Anwar, Lebe oleh Senan, Sameno sebagai Bayan dan Ulu-Ulu ditangani Sakuwan. Masa pemerintahan Suri Niti cukup lama yaitu 29 tahun yaitu semenjak 1945 sampai meninggalnya beliau pada tahun 1974.

Pada tahun 1975 Kepala Desa dijabat oleh S. Tauchid yang dipilih langsung oleh rakyat Johorejo. Di masa ini pula sejarah mencatat keberhasilannya di dalam membangun balai desa dan Sekolah Dasar (SD) Johorejo. Keberhasilan ini dilukiskan sebagai kebanggaan yang luar biasa karena sebelumnya SD hanya sampai kelas 4 dan atau empat kelas saja, sedangkan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi (kelas 5 dan 6) harus melanjutkan ke desa terdekat yaitu Lumansari. Di masa kepemimpinannya sampai berakhir masa jabatannya tahun 1988 ada catatan nama-nama Perangkat Desa secara lengkap yaitu :

 

 

Kades Bpk. S Tauchid

Kepala Desa : S Tauchid
Carik : M. Mulyadi
Bekel : Kamin
Lebe : Sarmidi
Ulu-ulu : Sudir
Bayan : Mardjan
Kebayan : Muhari

 

Tahun berikutnya tepatnya pada tahun 1989 pemilihan Kepala Desa Johorejo kembali di gelar kali ini pemenangnya adalah Sunardi. Semua perangkat desa masih dijabat oleh orang yang sama pada masa pemerintahan Kepala Desa sebelumnya, namun ada tambahan Perangkat Desa baru dengan jabatan Kaur Umum yaitu H. Abdul Rokhman. Program pembangunan yang sangat strategis pada masa itu adalah pembangunan jalan telford (macadam) sampai pengaspalan.

 

 

Kades Bpk. Sunardi

 

Kepala Desa : Sunardi
Carik : M. Mulyadi
Bekel : Kamin
Lebe : Sarmidi
Ulu-ulu : Sudir
Bayan : Mardjan
Kebayan : Muhari
Kaur Umum : Abdul Rohman

 

Program pembangunan tersebut merupakan langkah awal peletakan kerangka pembangunan bagi Kepala Desa berikutnya, karena masa jabatan Kepala Desa Sunardi berakhir tahun 1998. Kerangka kebijakan yang telah bergulir dilanjutkan oleh Kepala Desa baru hasil pemilihan tahun 1999 yaitu Subakir. Berjalannya hubungan yang sinergis antara lembaga desa yang ada dengan Kepala Desa, Subakir telah melahirkan kebijakan yang fundamental bagi arah pembangunan Desa Johorejo. Kerangka yang sistematik dengan polesan kebijakan yang mendasar telah mencatat berbagai kemajuan di semua bidang pembangunan.

Keberhasilan ini merupakan keberhasilan semua Perangkat Desa yang telah berusaha dengan segenap kemampuannya menerjemahkan visi dan misi pembangunan sesuai dengan bagian yang menjadi tanggungjawabnya. Terlebih setelah terpilih kembali tahun 2007 sebagai Lurah, beliau mulai tahun 2009 juga mendapatkan suntikan darah baru berupa perangkat-perangkat desa baru yang semakin menajamkan visi dan misi pembangunan Desa Johorejo, berikut perangkat masa bhakti periode ke-2 kepemimpian Subakir sebagai Kepala Desa :

 

Kades Bpk. Subakir

Kepala Desa : Subakir
Carik : Roziqin
Kaur Umum : Abdul Rohman
Kaur Keuangan : Abdul Wakhid
Bekel : Romadhon
Lebe : Saifullah
Ulu-ulu : Agus Septa Nugraha
Bayan : Kaswan

 

Tahun berikutnya tepatnya pada tahun 2014 pemilihan Kepala Desa Johorejo kembali di gelar kali ini pemenangnya adalah Arief Budiyanto, SE. Semua perangkat desa masih dijabat oleh orang yang

 

 

 

sama pada masa pemerintahan Kepala Desa sebelumnya.

Program pembangunan yang sangat strategis karena adanya undang-undang desa yang memprogramkan semua kegiatan pembangunan dilakukan oleh desa tanpa adanya rekanan dari pihak lain. Hal tersebut juga menjadikan pekerjaan berat bagi kepala desa baru Desa Johorejo, berikut ini adalah susunan pemerintahan desa Johorejo periode 2015-2020

Kades Bpk Arief Budiyanto, SE

Kepala Desa : Arief Budiyanto, SE
Carik : Roziqin
Kaur Umum : Abdul Rohman
Kaur Keuangan : Abdul Wakhid
Bekel : Romadhon
Lebe : Saifullah
Ulu-ulu : Agus Septa Nugraha
Bayan : Kaswan

Tahun 2018

Kepala Desa : Arief Budiyanto, SE
Sekdes : Sukron Adin
Kaur Umum : Setyo Wibowo
Kaur Keuangan : Agus Septa Nugraha
Kaur Perencanaan : Lutfil Adib
Kasi Pemerintahan : Romadhon
Kasi Kesejahteraan : Abdul Wakhid
kasi Pelayanan : Saifullah
kadus I : Kaswan